Minggu, 05 Juni 2011

Perawatan Hipertensi

A. Pengertian Hipertensi
Istilah “hipertensi” diambil dari bahasa Inggris “hypertension”. Kata “hypertension” itu sendiri berasal dari bahasa latin, yakni “hyper” dan “tension”. “Hyper” berarti super atau luar biasa dan “tension” berarti tekanan atau tegangan. Hypertension akhirnya menjadi istilah kedokteran yang popular untuk menyebut penyakit tekanan darah tinggi. Disamping itu, dalam bahasa Inggris digunakan istilah “high blood pressure” yang berarti tekanan darah tinggi. (Bangun. 2002)
Hipertensi adalah tekanan darah sistolik ? 140 mmHg dan tekanan darah diastolic ? 90 mmHg, atau bila pasien memakai obat hipertensi. (Mansjoer, Arif. 1999)
Dalam rekomendasi penatalaksanaan hipertensi yang kesemuanya didasarkan atas bukti penelitian (evidence based) antara lain dikeluarkan oleh The Seventh Report of The Joint National Committee on Prevention, Detection, Evalution, and Treatment of High Blood Pressure (JNC-7), 2003, World Health Organization/International Society of Hypertension (WHO-ISH), 1999, British Hypertension Society, European Society of Hypertension/European Society of Cardiology (ESH/ESC), definisi hipertensi sama untuk semua golongan umur. (Sudoyo, Aru W. 2006)
Klasifikasi Hipertensi
Menurut Dr. Marvin Moser dalam bukunya, Lower Your Blood Pressure and Live Longer, sebenarnya yang dinamakan tekanan darah normal atau tinggi, batasnya cukup luas. Karenanya, masih banyak dokter yang tidak setuju dengan klasifikasi batas tekanan darah normal dan batas mulainya hipertensi.
1.  Klasifikasi Menurut  The National Committee on the Detection and Treatment of Hypertension.
Klasifikasi hipertensi menurut The National Committee on the Detection and Treatment of Hypertension jilid keempat (1988) adalah tekanan darah untuk orang dewasa berumur 18 tahun atau lebih. Pada umumnya orang yang berusia diatas 55 tahun akan menderita isolated systolic hypertension (hipertensi sistolik terisolasi). Namun, jika hal ini terjadi pada orang yang lebih muda, dapat diramalkan bahwa dikemudian hari orang itu akan menderita hipertensi sistolik.
2.  Klasifikasi menurut WHO
Menurut WHO (World Health Organization), organisasi kesehatan dunia dibawah PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa), klasifikasi tekanan darah tinggi sebagai berikut.
  • Tekanan darah normal, yakni jika sistolik kurang atau sama dengan 140 dan diistolik kurang atau sama dengan 90 mmHg.
  • Tekanan darah perbatasan, yakni sistolik 141-149 dan diastolic 91-94 mmHg.
  • Tekanan darah tinggi atau hipertensi, yakni jika sistolik lebih besar atau sama dengan 160 mmHg dan diastolic lebih besar sama dengan 95 mmHg.
Pengukuran Tekanan Darah
Pada usia lanjut terdapat berbagai keadaan yang sering menjadi masalah dalam penentuann tekanan darah. Tekanan Darah yang akurat yang dianggap mewakili nilai sebenarnya, amat dipengaruhi oleh keadaan pembuluh pasien yang sudah mengalami kekakuan akibat aterosklerosis dan barorefleks yang berkurang. Tekanan darah dapat menurun secara berlebihan pada posisi berdiri, sesudah makan atau sesudah aktivitas. Selain itu pada pengukuran tekanan darah sering terdapat pseudohipertensi akibat manset pengukuran tekanan darah harus menekan lebih keras arteri brachialis yang kaku, mengeras karena klasifikasi. Keadaan ini harus dipertimbangkan apabila terdapat hipotensi ortostatik atau respon pengobatan yang kurang. Oleh karena pada usia lanjut pengukuran tekanan darah sebaiknya dilakukan juga pada posisi berdiri. (Sudoyo, Ani W. 2006)
Pasien dibiarkan istirahat dalam kamar yang tenang, kurang lebih selama 5-10 menit. Beberapa jam sebelumnya tidak dibenarkan minum zat perangsang (stimulant) seperti teh, kopi, dan minuman ringan yang mengandung kafein. Karet lingkar lengan sfigmomanometer memiliki ukuran lebar 12,5 cm dan harus menutup paling sedikit 2/3 bagian atas lengan, karena karet yang lebih kecil dengan cakupan yang kecil akan memberikan angka yang lebih tinggi. Semua orang dewasa harus mengkur tekanan darahnya secara teratur setidaknya setiap 5 tahun sampai umur 80 tahun. Jika hasilnya berada pada nilai batas, pengukuran perlu dilakukan setiap 3-12 bulan. (Gray, Huon H, dkk. 2003)
B. Etiologi
Berdasarkan penyebabnya hipertensi dibagi menjadi dua golongan, yaitu :
1.  Hipertensi Primer
Hipertensi primer adalah penyakit hipertensi yang tidak langsung disebabkan oleh penyebab yang telah diketahui. Dalam bahasa sederhana atau menurut istilah orang awam adalah hipertensi yang penyebabnya tidak atau belum diketahui. Mereka yang menderita hipertensi primer, tidak menunjukkan gejala apapun. Pada umumnya, penyakit hipertensi primer baru diketahui pada waktu memeriksa kasehatan kedokteran. (Bangun, 2002)
Hipertensi primer juga disebut hipertensi “esensial” atau “idiopatik” dan merupakan 95 % dari kasus-kasus hipertensi. Selama 75 tahun terakhir telah banyak penelitian untuk mencari etiologinya. (Gray, Huon H, dkk, 2003)
Hipertensi esensial atau hipertensi primer yang tidak diketahui penyebabnya, disebut juga hipertensi idiopatik. Terdapat sekitar 95 % kasus. Banyak faktor yang mempengaruhinya seperti genetic, lingkungan, hiperaktivitas susunan saraf  simpatis, sistem renin-angiotensin, defek dalam ekskresi Na, peningkatan Na & Ca interselular, dan faktor-faktor yang meningkatkan risiko, seperti obesitas, alcohol, merokok, serta polisitemia. (Mansjoer, Arif. 2001)
2.  Hipertensi Sekunder
Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang telah diketahui penyebabnya. Timbulnya penyakit hipetensi sekunder sebagai akibat dari suatu penyakit, kondisi, dan kebiasaan seseorang. Contoh kelainan yang menyebabkan hipertensi sekunder adalah sebagai hasil dari salah satu atau kombinasi hal-hal berikut :
  • Akibat stres yang parah.
  • Penyakit atau gangguan ginjal.
  • Kehamilan atau pemakaian pil pencegah hamil.
  • Pemakaian obat terlarang seperti heroin, kokain, atau jenis narkoba lainnya.
  • Cedera dikepala atau perdarahan diotak yang berat.
  • Tumor diotak atau sebagai reaksi dari pembedahan.
(Bangun. 2002)
Hipertensi sekunder atau hipertensi renal. Terdapat sekitar 5 % kasus. Penyebab spesifiknya diketahui seperti penggunaan estrogen, penyakit ginjal, hipertensi vascular renal, hiperaldosteronisme primer, dan sindrom Cushing, feokromositoma, koarktasio aorta, hipertensi yang berhubungan dengan kehamilan, dll. (Mansjoer, Arif. 2001)
D. Tanda dan Gejala
Peninggian tekanan darah kadang-kadang merupakan satu-satunya gejala. Bila demikian, gejala baru muncul setelah terjadi komplikasi pada ginjal, mata, otak, atau jantung. Gejala lain yang sering ditemukan adalah sakit kepala, epistaksis, marah, telinga berdengung, rasa berat ditengkuk, sukar tidur, mata berkunang-kunang, dan pusing.
E. Penatalaksaan
Tujuan deteksi dan penatalaksanaan hipertensi adalah menurunkan risiko penyakit kardiovaskular dan mortalitas serta morbiditas yang berkaitan. Tujuan terapi adalah mencapai dan mempertahankan tekanan sistolik dibawah 140 mmHg dan tekanan diastolic dibawah 90 mmHg dan mengontrol faktor risiko. Hal ini dapat dicapai melalui modifikasi gaya hidup saja, atau dengan obat antihipertensi. (Mansjoer, Arif, dkk. 2001)
Hipertensi pada usia lanjut sama seperti hipertensi pada usia lainnya. Bahkan risiko terjadinya komplikasi lebih besar. Terdapat hasil 2 penelitian yang terkontrol yang mempengaruhi cara pengobatan hipertensi sistolik pada usia lanjut, yaitu systolic Hypertension in the Elderly Program (SHEP) dan Systolik Hypertension in Europe (Syst-Eur). Pada studi SHEP yang melibatkan pasien dengan usia lebih 60 tahun dan tekanan darah lebih dari 160/90 mmHg, pemberian diuretic klortalidon (tanpa atau dengan penghambat beta) mengurangi kejadian strok (36 %), gagal jantung (54 %), infark miokard (27 %) dan seluruh komplikasi kardiovaskular (32 %) dibandingkan dengan kelompok placebo. (Sudoyo, Aru W, dkk. 2006)
Tujuan utama pengobatan penderita dengan hipertensi ialah tercapainya penurunan maksimum risiko total mordibitas dan mortalitas kardiovaskuler. Hal ini memerlukan pengobatan semua faktor risiko reversible yang ditemukan seperti merokok, peningkatan cholesterol, diabetes mellitus dan pengobatan yang memadai kondisi klinik yang berhubungan selain pengobatan tekanan darah tingginya sendiri. Intensitas pengobatan sesuai dengan stratifikasi risiko absolute kardiovaskuler seperti diberikut ini :
F.  Strategi penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan Farmakologi :
  • Segera berikan pengobatan farmakologi untuk penderita hipertensi dengan risiko tinggi dan sangat tinggi.
  • Monitor tekanan darah, faktor risiko dan dapatkan informasi lain untuk beberapa minggu sebelum menentukan untuk memberikan pengobatan farmakologi (risiko sedang).
  • Observasi penderita selama waktu tertentu sebelum memberikan pengobatan farmakologi (risiko ringan).
2.  Pengobatan non farmakologi
Diberikan pada semua tingkatan dan stratifikasi hipertensi. Tujuan intervensi gaya hidup :
  • Untuk menurunkan tekanan darah
  • Untuk mengurangi kebutuhan dan meningkatkan efikasi obat antihipertensi.
  • Untuk mengobati faktor risiko lain yang ada
  • Untuk pencegahan primer hipertensi dan kelainan kardiovaskuler yang berhubungan dimasyarakat.
1). Berhenti merokok
Merupakan perubahan gaya hidup yang paling kuat untuk pencegahan penyakit kardiovaskuler dan nonkardiovaskuler pada penderita hipertensi.
Untuk penderita yang sulit untuk menghentikan merokok dapat dibantu dengan pengobatan penggantian nikotin.
2). Penurunan berat badan
Obesitas merupakan faktor predisposisi penting terjadinya hipertensi. Penurunan berat badan sebesar 5 kg pada penderita hipertensi dengan obesitas (kelebihan berat badan > 10 %) dapat menurunkan tekanan darah. Penurunan berat badan juga bermanfaat untuk memperbaiki faktor risiko yang lain (resistensi insulin, diabetes mellitus, hiperlipidemia dan LVH).
3). Konsumsi alkohol sedang
Terdapat hubungan linier antara konsumsi alcohol, tingkat tekanan darah dan prevalensi hipertensi pada masyarakat. Alcohol menurunkan efek obat antihipertensi, tetapi efek presor ini menghilang dalam 1-2 minggu dengan mengurangi konsumsi alcohol dibatasi 20-30 g etanol per hari untuk pria dan 10-20 g etanol per hari pada wanita.
4). Penurunan diet garam
Diet tinggi garam dihubungkan dengan penigkatan tekanan darah dan prevalensi hipertensi. Efek diperkuat dengan diet kalium yang rendah. Penurunan diet natrium dari 180 mmol (10,5 g) per hari menjadi 80-100 mmol (4,7-5,8 g) per hari menurunkan tekanan darah sistolik 4-6 mmHg.
5). Perubahan diet yang komplek
Vegetarian mempunyai tekannan darah lebih rendah dibandingkan pemakan daging dan diet vegetarian pada penderita hipertensi dapat menurunkan tekanan darah. Meningkatkan konsumsi buah dan sayuran menurunkan tekanan darah TDS/TDD 3/1 mmHg sedangkan mengurangi diet lemak menurunkan tekanan darah 6/3 mmHg. Pada penderita tekanan darah tinggi, kombinasi keduanya dapat menurunkan tekanan darah 11/6 mmHg. Adanya diet tinggi kalsium, magnesium dan kalium mungkin berperanan terhadap efek tersebut. Makan ikan secara teratur sebagai cara mengurangi berat badan akan meningkatkan penurunan tekanan darah pada penderita gemuk dan memperbaiki profil lemak.
6). Peningkatan aktifitas fisik
Latihan fisik aerobic sedang secara teratur (jalan atau renang selama 30-45 menit 3-4 × seminggu) mungkin lebih efektif menurunkan tekanan darah dibandingkan olah-raga berat seperti lari, jogging. Tekanan darah sistolik turun 4-8 mmHg. Latihan fisik isometric seperti angkat besi dapat meningkatkan tekanan darah dan harus dihindari pada penderita hipertensi (WHO-ISH 1999). (Joewono, Boedi Soesetyo. 2003).

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | GreenGeeks Review