Jumat, 10 Juni 2011

Contoh Sinopsis Novel

LANGIT DAN BUMI SAHABAT KAMI
(NH.DINI)

IDENTITAS NOVEL

Judul : LANGIT DAN BUMI SAHABAT KAMI
Penegarang : Nh. Dini

Nama Penerbit :
Diterbitkan pertama kali : PT Dunia Pustaka Jaya 1979
Diterbitkan oleh : PT Gramedia Pustaka Utama, anggota IKAPI, Jakarta, Agustus 1988

Informasi cetakan :
Cetakan pertama : September 1990
Cetakan kedua : Desember 1991
Cetakan ketiga : Agustus 1994

Ukuran buku :
Panjang : 21 cm
Lebar : 13,5 cm
Tebal : 8 mm

Cover buku mencangkup :
Warna : Hijau, Putih, Hitam
Gambar : Seorang gadis dan Alam sekitar
Ilustrasi : Seorang wanita dan kakek yang mengambil hasil alam

Editor buku :
Rancangan sampul : Rahardjo. S
Perwajahan : Sofnir Ali


RINGKASAN NOVEL LANGIT DAN BUMI SAHABAT KAMI

Novel ini adalah cerita kehidupan zaman perang yang mengisahkan tentang kehidupan yang sulit pada sebuah keluarga dengan tiga orang anak. Mereka memiliki karakter yang berbeda beda yaitu : Dini adalah seorang yang penyayang, Ayahnya seorang yang suka member nasehat kepada anak-anaknya. Ibunya seorang yang penyabar. Kakaknya Nugroho seorang yang pendiam dan Teguh seorang yang pemberani. Yu saijem seorang yang suka berusaha demi apapun.

Novel ini dipenuhi dengan kisah tentang kehidupan mereka di zaman penjajahan yang sangat sulit untuk hidup dalam ikatan penjajah. Seperti para serdadu- serdadu Jepang yang sering kerumahnya tanpa permisi hanya untuk duduk dan berjalan-jalan. Kebanyakan dari mereka

Sering mencuri barang-berang berharga milik keluarga Dini yang nampak dan yang terlihat bagus bagi mereka. Contohnya Ayam, Itik, kain batik milik ibu Dini yang baru sudah dibuat, Bokor dari kuningan dan Kucing-kucingan dari tanah liat yang amat disukai Dini. Mereka mengambil secara paksa. Masuk tanpa permisi seenaknya saja. Pergi hening tanpa sepatah kata, sehingga seisi keluarga berunding dan memutuskan untuk menyembunyikan barang-barang berharga. Mereka memasukan lemari berisi piring-piring kedalam tanah dan menimbunya.

Makanan sehari- hari mereka hanya seadanya saja. Kadang-kadang hanya cukup untuk setengah hari saja. Makanan mereka sehari-hari hanya bayam, bonggol pisang, menir yang berulat, jagung yang penuh serbuk, dan gaplek busuk. Mereka hanya pasrah dan menerima apa adanya kehidupan yang mereka jalani. Kadang- kadang mereka memakan Krokot dan Kremah yang menjadi makanan jangkrik karena tidak ada yng akan dimakan.

Disaat musim kering tiba, keluarga Dini tidak terlalu kesulitan karena sungai di sebrang dekat dengan rumah mereka. Setiap yang tidak mempunyai kerjaan, ia harus mengangkat air dari sungai di sebrang ke rumah bergantian demi mencukupi kebutuhan cuci kakus. Setiap jam 4 sore Yu saijem dan Dini pergi mandi kesungai bersama-sama. Setelah beberapa miggu mengalami musim kekeringan, Ayah Dini memutuskan untuk membuat Sumur di kebun Wetan Dalem. Demi kebutuhan sehari-hari mereka menanam Singkong di kebun. Setiap hari mereka menyiramnya bergantian karena hujan yang ditunggu-tunggu tidak kunjung turun.

Kegiatan sehari-hari mereka terpusat kepada pencarian isi perut. Di zaman kekurangan yang mereka hadapi, mereka selalu memanfaatkan apa yang ada dan tidak mubazir . mereka juga dapat makan karena peliharaan burung Perkutut yang ayah Dini tukarkan kepada pedagang Cina. Yu kin tetangganya yang sudah mempunyai anak ketika itu pula suaminya meninggal. Ibu Dini pun tidak tega melihat Yu kin tinggal sendirian, sehingga ibu membawa Yu kin tinggal bersama-sama dengan keluarga Dini.

Dini juga memiliki kucing yang bernama melati yang mempunyai 3 ekor anaknya. Tetapi yang satunya lagi dimakan karena menurut induknya kesehatan anak kucing itu tidak memadai dan tidak akan bisa hidup.

Setelah para serdadu-serdadu jepang yang berada di daerah keluarga Dini, Pemerintah mengambil tindakan. Mereka mengumpulkan gelandangan dan meletakanya pada satu daerah. Mereka mengajarnya bercocok tanam, berternak agar dapat hidup layak.

Sekolah kembali dibuka. Dini kembali bersekolah dan bertemu dengan teman lamanya yang sudah lama tidak sekolah dan akhirnya kembali bersekolah. Seusai pulang sekolah Dini tidak pulang melainkan pergi kerumah temanya untuk berlatih tari.

Sore harinya barulah dini pulang kerumah. Di saat magrib Teguh pergi ke Mesjid untuk melaksanakan sholat magrib. Setelah itu Teguh pergi pulang. Ia nampak tergesa-gesa dan mengatakan kepada ibunya bahwa ada tentara NICA yang datang dan melakukan penangkapan besar-besaran. Kang marjo suami Yu saijem dan ayah Dini ditangkap. Penangkapan ini karena adanya pengaduan mata-mata yang ada di sekitar daerah tersebut.

Setelah 4 hari di penjara, ayah Dini dan kang Marjo kembali kerumah. Setelah pulang dari penjara ayah Dini nampak sakit-sakitan. Tak berhari-hari sesudah ayah Dini pulang dari penjara, Heratih, Maryam dan Utono pun pulang dari Salatiga. Mereka adalah saudara jauhmai Dini. Rumah pun kembali menjadi ramai. Ayah yang sakit-sakitan dibawa ke rumah sakit oleh Utono. Di siang hari Maryam mengajak Dini untuk memandikan anak Yu kin dengan air gege. Air gege adalah air yang dijemur dibawah sinar Matahari lalu dimandikan kepada bayi. Kononya air gege itu dapat membuat bai tumbuh besar dan perkasa. Semua keluarga tampak senang dan kembali menjadi seperti dulu.





0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | GreenGeeks Review